Sukses

Saat Siswi SMK Asal Kudus Hipnotis Pengunjung Mall di Surabaya Dengan Busana

Liputan6.com, Jakarta Konsistensi dan ketekunan Fatimah Al Zahra siswi SMK NU Banat Kudus dalam dunia desain busana membuahkan hasil. Dia sukses membuat pengunjung mall di Surabaya Jawa Timur kagum dengan koleksi busana buatannya sendiri.

Parade busana karya siswi SMK NU Banat Kudus tersebut sekaligus menjadi pembuka rangkaian acara yang digelar oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.

Kegiatan ini, untuk memperkenalkan karya-karya inovasi teknologi dari peserta didik vokasi.

"Awalnya saya lebih tertarik dengan dunia modeling dibanding fashion designer. Namun, karena tidak mendapat restu dari orang tua, saya akhirnya memutuskan untuk menekuni dunia fesyen tersebut," ujarnya di Surabaya, Jumat (29/7/2022).

Siswi yang tinggal di Jepara ini mengungkapkan, passion pada dunia perancangan fesyen ini mulai muncul setelah memutuskan melanjutkan sekolah di SMK NU Banat Kudus.

Ekosistem belajar yang sangat mendukung, membuat Fatimah mudah menemukan bakat terpendam dalam dirinya. Mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya tersebut.

“Di SMK NU Banat itu menerapkan Kurikulum Merdeka. Jadi, untuk tata busanya dibagi dua, yakni kelas kreasi dan kelas produksi. Kelas kreasi ini kelas unggulan membuat desain, lalu yang mengembangkannya kelas produksi. Jadi, kita tidak hanya belajar jahit, tetapi juga diajari membuat brand, komunikasi, digital marketing, dan sebagainya,” kata Fatimah.

Lambat laun, Fatimah semakin mantap menekuni dunia fashion design. Apalagi, usai dirinya melihat antusias masyarakat terhadap karya rancangannya yang selalu mendapat sambutan positif.

“Saat acara ‘Muffest 2022’ di Jakarta malah bajunya sudah habis dipesan sebelum fashion show. Jadi, kami harus call bagian produksi di Kudus untuk kirim ke Jakarta,” ujar Fatimah.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

2 dari 2 halaman

Tema Busana

Dalam koleksi event bertajuk Vokasiland Road to Hakteknas 2022 ini, Fatimah tidak sendirian. Ia berkolaborasi bersama kakak kelasnya, Nadia, sebagai konseptor utama untuk tema "luwur" yang mereka ambil.

“Gagasan utamanya dari saya dan Kak Nadia, kemudian proses pengembangannya dilakukan bersama-sama dengan tim lainnya,” tutur Fatimah.

Tema luwur sendiri terinspirasi Buka Luwur yang menjadi tradisi rutin masyarakat Kudus. Luwur merupakan kelambu atau kain putih yang digunakan sebagai penutup makam Sunan Kudus, yang setiap setahun sekali dibuka untuk diganti.

“Karena tren forecasting untuk tahun ini, kan spirituality yang berpijak pada nilai-nilai tradisi, budaya, tetapi kami ambil yang tidak jauh-jauh dari Kudus. Jadi, ya kami ambil luwur ini,” terang Fatimah.

Dengan tema tersebut, Fatimah berharap tidak hanya membawa nama sekolah, tetapi juga bisa mengangkat dan memperkenalkan tradisi masyarakat Kudus ke Indonesia, atau bahkan ke mancanegara.

”Jadi, tidak hanya sekolah yang harum. Akan tetapi, nama Kudus juga ikut harum,” kata Fatimah

Menanggapi gelaran busana SMK NU Kudus tersebut, Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek, Kiki Yuliati menuturkan, karya-karya yang ditampilkan oleh para siswa SMK NU Banat Kudus ini diharapkan menjadi contoh yang baik dan memotivasi siswa sekolah lainnya untuk bisa berkarya dan berprestasi setinggi mungkin.

“Saya percaya bahwa siswa Indonesia bisa menghasilkan karya yang mendunia seperti SMK NU Banat Kudus ini yang prestasinya memang sudah banyak, baik di level nasional maupun internasional,” tutur Kiki.