Sukses

Menilik Sejarah Bangunan Stasiun Kediri Jawa Timur

Liputan6.com, Jakarta Stasiun Kediri merupakan salah satu stasiun besar dan berusia tua di Jawa Timur. Merupakan stasiun tipe C yang menjadi tempat pemberhentian wajib jalur Kertosono-Blitar.

Stasiun Kediri dibangun pada Tahun 1882 bersamaan dengan jalur rel menuju Stasiun Tulungagung. Kemudian Stasiun Tulungagung resmi dioperasikan sejak Tahun 1883.

Stasiun Kediri merupakan stasiun peninggalan jaman pemerintahan Belanda yang masih orisinil dan utuh belum direnovasi dalam skala besar. Hanya beberapa bagian yang ditambahkan sebagai bentuk perawatan bangunan dan penambahan fasilitas.

Stasiun ini berada di pusat Kota Kediri yang ada di Jalan Dhoho, bentuk bangunan stasiun ini adalah idische empire. Bentuk bangunannya dapat dikenali dengan tipe ciri bangunan kokoh tinggi dan bagian pinggirnya diberi ornament besi tempa.

Selain menjadi pusat pemberhentian beberapa kereta, bangunan ini juga menjadi kantor dari beberapa ekspedisi. Gaya Arsitektur dari bangunan ini masih kental dari awal dibangun namun ornament atap yang menjadi ciri khasnya sudah tak Nampak.

Stasiun Kediri memiliki 6 jalur dengan satu jalur utama lurus yang menggunakan persinyalan mekanik. Pola ruangan yang ada di bangunan ini disusun rapi dari arah utara ke selatan dan menghadap ke arah barat.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

2 dari 2 halaman

Insiden

Pintu stasiun terbuat dari kayu dan dindingnya berwarna putih setebal 30 centimeter. Jalur menuju Jombang yang berada di ujung paling selatan dan ada percabangan jalur stasiun menuju Depo Pertamina Kediri yang dimana dua duanya sudah tidak aktif.

Disebelah barat Stasiun Kediri juga terdapat bangunan yang dulunya adalah milik Gudang Garam namun sekarang sudah menjadi Gudang elektronik. Diyakini bahwa logo dari Gudang Garam terinspirasi dari bangunan tersebut.

Insiden yang pernah terjadi di Stasiun Kediri adalah pada saat Tahun 2003 Aremania mengamuk dengan melempari batu ke peron Stasiun Kota Kediri saat menuju Surakarta.

Kejadian ini mengakibatkan 3 orang terluka, toko stasiun rusak dan beberapa kerusakan di rumah warga. Serta pada Tahun 2008 Aremania mengamuk akibat kekalahannya melawan Persiwa Wamena dalam babak besar Liga Indonesia.

Kejadian ini mengakibatkan jendela pecah dan tempat tunggu stasiun rusak parah.

Penulis: Aisyah Salma Izzatunnisa