Sukses

Dua Satai Legendaris Wajib Dicoba Saat Liburan ke Surabaya

Liputan6.com, Jakarta Sejumlah daerah memiliki karakter dan rasa kuliner yang unik meski dari bentuk terlihat sama. Seperti kuliner Satai khas Surabaya Jawa Timur yang rasanya berbeda dengan satai di tempat lain.

Kota Surabaya sendiri punya dua menu satai khas yang andalan dan cukup melegenda. Sehingga wajib buat para pelancong untuk mencoba hidangan satai ini.

Penasaran dengan satai khas Surabaya? berikut rangkuman kuliner satai khas Surabaya dari berbagai sumber:

Satai Klopo

Satai kelapa, atau klopo, merupakan hidangan yang terkenal dengan racikan andalan sejak tahun 1994. Satai klopo jangan diartikan secara harfiah bahwa kelapa ditusuk dan dibakar ya. Namun, kata klopo di sini menunjukkan perbedaan bumbu dalam pembuatan satai.

Seperti satai lainnya, kuliner ini terbuat dari daging ayam, kambing, atau sapi yang dibumbui dengan kelapa parut. Kelapa parut itu menambahkan cita rasa berbeda dan unik dari satai lainnya. Jadi benar deh, ungkapan yang mengatakan kalau berbeda sedikit sangat berpengaruh buat masakan.

Cara menikmati satai ini sama seperti pada umumnya. Bisa dijadikan lauk makan dengan nasi atau lontong. Kalau mau, kamu juga bisa makan langsung satai ini tanpa dihidangkan dengan karbohidrat, sehingga bisa merasakan cita rasa satai dengan bumbu kelapa.

Saksikan video pilihan berikut ini: 

2 dari 2 halaman

Satai Karak

Dalam bahasa Indonesia, karak adalah bentuk nonformal dari kerak. Kerak sendiri merupakan lapisan kering atau hangus yang melekat pada suatu benda.

Namun satai karak bukan berarti kuliner yang terbuat dari kerak tersebut. Melainkan satai ini merupakan terbuat dari daging sapi yang dimakan dengan ketan hitam.

Tepat. Satai dan ketan hitam merupakan satu paket dalam hidangan ini. Kita tidak bisa menggantinya dengan nasi putih atau lontong, karena cita rasanya akan berubah dari asalnya. Oleh karena itu, kamu bisa coba deh cita rasa baru menyantap satai dengan ketan hitam khas Surabaya ini. Dijamin menambah pengalaman lidah.

Penulis: Alfarabi Maulana