Sukses

Saat Bunker Saksi Bisu Penjajahan Jepang di Lumajang

Liputan6.com, Jakarta Zaman penjajahan banyak meninggalkan sejumlah rekam jejak di Indonesia termasuk Jawa Timur.

Mulai dari senjata hingga bangunan yang digunakan untuk tempat pertahanan maupun tempat persembunyian. Seperti bunker Jepang yang berada di Lumajang.

Bunker tersebut dahulu digunakan penjajah Jepang saat masa perang. Di penghujung tahun 1943, Jepang melakukan mobilisasi besar-besaran di daerah yang dianggap stretegis untuk menghalau tentara sekutu. 

Utamanya dari Australia yang berdekatan dengan wilayah perairan Lumajang. 

Selain itu, Kabupaten Lumajang dinilai Jepang merupakan wilayah yang cukup penting karena memiliki potensi yang besar. Potensi eksplorasi sumber daya alam, sumber daya manusia sekaligus merupakan daerah yang cukup strategis untuk pertahanan. 

Sejumlah bukti yang hingga kini masih ada, mulai dari lapangan terbang dan puluhan bahkan ratusan Bunker Jepang yang sudah tertutup pasir mulai dari wilayah Tempeh, Kunir, Pasirian hingga Tempursari.

Meskipun hanya tinggal puing dan sedikit sisa bangunannya saja. Fakta tersebut merupakan bukti sejarah bahwa Lumajang daerah yang juga memiliki pengalaman pahit pada masa penjajahan Jepang. 

Dengan mengerahkan barisan pemuda semi militer yang tergabung dalam seinendan dan dibantu oleh romusha, proyek ini dikerjakan pada awal tahun 1943. Para pekerja bukan hanya berasal dari daerah Lumajang saja.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Romusha

Melainkan dari sejumlah daerah, seperti Probolinggo, Malang, Pasuruan, Bondowoso hingga dari daerah Bojonegoro. 

Selama kurang lebih sebulan, seinendan dan murid sekolah menengah asal Malang, sebanyak 250 orang diwajibkan untuk mengikuti kinrohosi (kerja bakti). 

Mereka ditempatkan di dua barak bertiang bambu, berdinding dan beratap alang-alang. Pembangunan Lapangan terbang dan sejumlah bunker di daerah Pandawangi, menelan ratusan korban jiwa. 

Mereka tewas akibat minimnya sarana penunjang kerja, buruknya gizi, barak yang tidak memadahi, kerasnya tekanan tentara Jepang, serta kondisi psikologis yang lemah. 

Untuk makan saja, mereka harus menunggu berjam-jam, dengan menu makanan yang sangat sederhana, seperti nasi jagung dan ikan asin atau bahkan dengan gaplek (singkong yang dikeringkan). 

Sedangkan untuk kebutuhan air minum, mereka harus mengkonsumsi air mentah dari sungai setempat. Jika malam, mereka harus tidur tanpa alas atau bahkan selimut, meskipun angin cukup kencang karena berada di daerah pantai yang suhunya sangat dingin.

Mantan romusha, baik dari kalangan pemuda dan pelajar, tidak akan bertahan lama jika mereka selamat setelah pulang dari proyek Pandawangi. Rata-rata mereka stres berkepanjangan, atau gila. Tetapi sebagian besar lainnya, telah tewas.