Sukses

Cerita Air Kejujuran di Sumur Keramat Tuban

Liputan6.com, Jakarta Di Kabupaten Tuban, Jawa Timur terdapat sebuah peninggalan sumur tua yang dianggap keramat oleh warga setempat.

Sumur kramat tersebut tepatnya di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding Kabupaten Tuban

Warga setempat pun setiap dua tahun sekali, membersihkan dasar sumur keramat itu. Namun, pembersihan ini hanya boleh dilakukan keturunan dari Mbah Pamor, yakni orang yang merupakan penggali sumur itu.

Giling (kail) dari batang kayu yang diperkirakan usianya sudah puluhan tahun lamanya di sumur keramat Bejagung, menjadi magnet bagi para pengunjung saat mengambil airnya.

Sumur keramat Bejagung diperkirakan sudak ada sejak 1841 Masehi. Banyak yang meyakini bahwa ada kelebihan tersendiri ketika menggunakan airnya.

Air sumur tersebut biasanya dipakai untuk pengambilan sumpah, bahkan dipakai warga untuk pengambilan sumpah pocong, terkait tuduhan seseorang untuk mengetahui jawaban atas kebenaran.

Air tersebut biasa dijuluki air kejujuran lantaran menjadi media untuk menyelesaikan masalah fitnah dari orang lain. 

Para pengunjung yang datang biasanya membawa air untuk dibawa pulang, bahkan bisa antre jika pengunjung ramai. Hal tersebut, kata dia, digunakan untuk berbagai keperluan, seperti pengobatan.

Untuk mendapatkan air itu, butuh sebuah perjuangan karena peralatan yang dipakai masih bersifat tradisonal atau dengan cara menimba. 

Hanya disediakan alat katrol yang terbuat dari kayu dengan tali untuk menarik ember yang berisi air ke atas.

Saksikan video pilihan berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Mitos Sumur Keramat

Abdurrochim salah seorang warga setempat mengungkapkan, setiap malam Jumat Wage dan Kamis Pon selalu ramai para pengunjung.

Kepentingannya pun bermacam-macam, seperti agar bisa lepas dari kesialan, mendapat selamat, dan mendapatkan keberkahan rezeki, serta beberapa kepentingan yang lainnya. 

"Kamis Pon dan Jumat Wage banyak peziarah yang datang," katanya.

Sebelum acara bersih sumur tua tersebut dilakukan, sebelumnya ada prosesi manganan sebanyak enam kali, dan ditutup acara yang terakhir yaitu bersih sumur.

"Ada juga acara barikan yang digelar di Pendopo kantor desa," katanya.

Selain itu, siangnya setiap hari, sekitar pukul 13.00 WIB, warga setempat berkumpul, melakukan manganan yang berupa dawet dan nasi tumpeng. Dua hal tersebut merupakan syarat mengikat kehidupan.