Sukses

Upacara Tradisi Yadnya Kasada Hingga Keberadaan Kaum Marit di Gunung Bromo

Liputan6.com, Jakarta Keberadaan Kaum Marit dinilai tak lepas dari rangkaian prosesi adat Yadnya Kasada masyarakat Tengger di Gunung Bromo Jawa Timur.

Aktivitas kaum marit dapat dilihat sejak malam hingga siang hari, sehari pasca upacara Yadnya Kasada. Mereka jauh-jauh hari sudah tiba, bahkan sengaja membuat tenda darurat di bibir terluar kawah, di samping beton pembatas atau keamanan.

Melihat Kaum Marit berjibaku saat menangkap sesaji membuat siapa pun akan bergidik ngeri. Meski tempat berpijak mereka memiliki kemiringan yang sangat ekstrim namun tak tampak rasa takut sedikitpun. 

Kaki-kaki para Marit ini seakan lekat dengan dinding kawah saat berlarian mengejar arah jatuhnya sesaji. Sebagian besar dari Marit percaya dan yakin bahwa mereka mendapatkan perlindungan dari Sang Hyang Widhi dan para leluhurnya saat menjalani profesi Marit. 

Karena itu tak heran walaupun dalam kondisi hujan bahkan erupsi sekalipun para pemberani ini tetap tegar dan tak bergeming.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Probolinggo Bambang Suprapto mengakui keberadaan kaum Marit yang sangat lekat dengan Yadnya Kasada masyarakat Tengger.

Menurut Bambang, Marit sudah ada seiring dengan adanya ritual Yadnya Kasada. Pasalnya masyarakat Tengger secara turun temurun juga meyakini setiap sesaji yang sudah dilabuh itu juga memiliki berkah tersendiri, terlebih lagi yang berupa hasil bumi.

Saksikam video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Etika Marit

“Jika hasil dari Marit itu ditanam kembali di ladang bersama dengan tanaman lainnya, maka hasil panennya akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Diyakini hal ini karena keberkahan dari japa mantra yang sebelumnya dibacakan oleh para Rama dukun sebelum sesaji di labuh, dimana salah satu pengharapannya adalah kesuburan bumi,” jelasnya.

Merujuk kepada hal tersebut Bambang menerangkan, bahwa Marit sejatinya bukan untuk mencari keuntungan dengan cara mengumpulkan labuh saji yang banyak.

"Jadi sebenarnya ini bukan untuk dimakan atau dijual, tetapi lebih untuk dikembangkan lagi,” urainya.

Selanjutnya Bambang juga mengimbau kepada para Marit agar senantiasa menjaga etika sebagai Marit. Karena, kata dia, seharusnya labuh sesaji baru boleh diambil ketika sudah menyentuh tanah. 

Selain itu, labuh sesaji boleh diambil dalam kondisi tidak direbut dan dipaksanakan. Apalagi sampai harus membuat alat berupa jaring tangkap dan sebagainya.

“Sebenarnya hal ini sudah sering kami sampaikan dan informasikan, tapi ya namanya manusia, ada saja yang kurang menghiraukan himbauan ini. Semoga keberadaan Marit ini menjadi penanda berkahnya perayaan Yadnya Kasada,” tandasnya.