Sukses

Pemilik Warung Tertinggi di Gunung Lawu Mudik Lebaran, Ini Sosok Mbok Yem Penyelamat Lapar Pendaki

Liputan6.com, Surabaya - Para penakluk gunung Lawu tentu sudah tidak asing lagi dengan Mbok Yem. Ya, Mbok Yem adalah pemilik warung tertinggi di Pulau Jawa. Ia berjualan di puncak Lawu dengan nama warung “Argo Dalem”.

Baru-baru ini nama Mbok Yem kembali menjadi perhatian setelah turun dari gunung Lawu dengan cara ditandu. Ternyata Mbok Yem mudik juga. Ia akan lebaran Idul Fitri bersama keluarganya di Magetan, Jawa Timur.

Dalam video yang beredar, saat turun Gunung Lawu Mbak Yem ditandu oleh empat orang. Terlihat tiga orang menggotong tandu dan satu orang lainnya memandu perjalanan di depan.

Mbok Yem akhirnya turun gunung untuk merayakan lebaran bersama keluarganya di kampung halamannya yg di Magetan,” tulis akun Instagram @magetanbanget dikutip Jumat (29/4/2022).

**Pantau arus mudik dan balik Lebaran 2022 melalui CCTV Kemenhub dari berbagai titik secara realtime di tautan ini

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

2 dari 2 halaman

Warung Mbok Yem di Puncak Lawu

Mbok Yem berjualan di puncak Lawu sudah cukup lama. Karena sudah tua, Mbok Yem turun gunung hanya satu tahun sekali yakni saat lebaran Idul Fitri.

Warung Mbok Yem yang berada di ketinggian 3.150 mdpl itu cukup laris di kalangan pendaki. Warung ini menjadi penyelamat lapar pendaki ketika para penakluk Lawu itu tak sempat memasak.

Menu andalan di warung Mbok Yem adalah nasi pecel telur ceplok dengan harga Rp15.000. Ada juga nasi soto yang siap disantap panas-panas sambil menikmati keindahan Lawu.

Selain menjadi tempat alternatif kala lapar, warung Mbok Yem juga menjadi tempat evakuasi. Apabila ada sesuatu yang terjadi, penanganan medisnya dilakukan di warung ini.

Fasilitas di warung Mbok Yem cukup lengkap. Ada televisi, kulkas, lampu, bahkan penanak nasi. Bagi orang yang belum pernah mendaki gunung Lawu akan bertanya-tanya perihal sumber listrik warung Mbok Yem.

Sumber listrik Mbok Yem berasal dari panel surya yang menangkap panas matahari lalu mengubahnya menjadi energi listrik. Listrik ini membantu Mbok Yem selama hidup di puncak Lawu. Hal ini sudah dibuktikan dengan kehadiran warung Mbok Yem yang berusia 3 dekade lebih.