Sukses

Dosen Unair Meneliti Jejak Sejarah Melalui Lirik Lagu

Liputan6.com, Jakarta Penelusuran atau penelitian jejak-jejak sejarah ternyata bisa melalui beragam cara. Selain lewat sisa peninggalan sejarah, penelitian juga bisa dilakukan lewat lirik lagu.

Seperti yang dilakukan dosen sejarah sekaligus guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unair Surabaya Jawa Timur Purnawan Basundoro. Dia menyebutkan lirik lagu merupakan salah satu sumber sejarah yang bisa diteliti.

Dia menyatakan, Peneliti asing sudah lama memakai musik sebagai narasi sejarah. Hal tersebut terbukti dengan musik tembang Jawa pada periode Mataram. 

Seperti yang dilakukan oleh Ricklefs dalam meneliti sejarah Jawa. Prof Purnawan menjelaskan lagu-lagu populer (pop) yang masih dan pernah didengar masyarakat akan diangkat sebagai narasi sejarah. 

Menurutnya, di antara banyak yang bertema percintaan, selalu ada lagu yang membahas tentang realitas. Misalnya, peristiwa sejarah, terkini masyarakat, atau yang menjadi perhatian publik. Itu disebut balada.

“Tahun 50 sampai 80-an, terdapat banyak lagu yang mengacu kepada realitas masa lalu. Lagu-lagu itu memotret dan mencerminkan kehidupan masyarakat di masa itu,” imbuhnya, Kamis (14/4/2022)

Di Indonesia sendiri, ada banyak pencipta atau penyanyi lagu balada. Di antaranya, Jane dan Franky, Iwan Fals, Ebiet G. Ade, Rita Rubby, Ully Sigar, serta Benyamin S dan Rhoma Irama. Purnawan lalu memberikan dua poin sumber sejarah yang jarang diteliti, namun ada sumbernya melalui lagu-lagu.

Pertama adalah pemanfaatan sejarah orang kecil atau pinggiran, seperti tukang becak. Ibu Sud pernah menyanyikan lagu tukang becak, termasuk Benyamin dan Ebiet.

 

2 dari 2 halaman

Sejarah Transportasi Dalam Lagu

“Kalau melihat lagu Ibu Sud ini atau kita menulis tentang sejarah transportasi Jakarta, kita bisa memulai dari (lagu) ini. Bahwa tahun 30 sampai 80-an ada transportasi yang eksis di Jakarta,  yakni becak,”unkapnya. 

“Lagu becak Ibu Sud yang ceria berkontradiksi dengan lagu becak Benyamin dan Ebiet yang berisi solidaritas, derita, dan penderitaan tukang becak,” imbuhnya.

Yang kedua adalah sejarah kecelakaan transportasi. Menurutnya, bahasan itu jarang diteliti oleh sejarawan. 

Padahal, itu juga ditemukan dalam lagu-lagu yang  relevan untuk menjadi panduan menulis sejarah kecelakaan transportasi. 

Misalnya, lagu Iwan Fals yang berjudul 1910. Lagu tersebut menceritakan tentang kecelakaan kereta api di Bintaro, tabrakan KA 225 dan KA 220 pada 19 Oktober 1987. 

"Kita bisa merunut dari kejadian tersebut dan seperti apa proses  kejadian itu,” katanya.

Selain itu, Iwan Fals menulis lagu tentang peristiwa Tampomas II yang berjudul Celoteh Camar Tolol dan Cemar. Lagu tersebut terinspirasi dari peristiwa besar yang cukup kontroversial dan belum diungkap dengan jelas. 

Peristiwa itu juga ditulis Ebiet G Ade yang  berjudul Sebuah Tragedi 1981, melalui potret nakhoda kapal Tampomas. 

“Nakhoda Tampomas, Ahmad Rifai, diceritakan sangat hebat karena saat kritis menolong awak, memberikan pelampung, dan dia bertahan di kapal itu hingga kapal itu tenggelam bersamanya,” ujarnya.