Sukses

Karapan Sapi Hingga Haji, Tradisi Suku Madura yang Masih Lestari

Liputan6.com, Surabaya - Suku Madura merupakan satu dari ribuan suku yang sudah ada dari zaman dahulu di Indonesia. Suku ini juga berasal di wilayah Madura Jawa Timur (Jatim) yang hingga kini masih ada.

Tak hanya keberadaan sukunya yang terus eksis, tapi berbagai jenis tradisi Suku Madura masih terus dilestarikan. Bahkan, tradisi Suku Madura mampu menarik minat para wisatawan untuk berkunjung ke Jatim.

Dari berbagai tradisi Suku Madura yang masih digelar hingga kini, ada enam tradisi yang paling terkenal dan ditunggu-tunggu para wisatawan.

1. Karapan Sapi

Karapan Sapi merupakan tradisi Suku Madura, yang digelar di bulan Agustus atau September setiap tahunnya. Bahkan, tradisi ini juga dilombakan hingga akhir bulan September atau Oktober.

Dalam tradisi Karapan Sapi, seorang joki dan 2 ekor sapi yang beradu kecepatan berlari untuk sampai ke garis finis.

Joki tersebut berdiri di atas kereta kayu dan mengendalikan arah lari sapi. Panjang lintasan karapan sapi sekitar 100 meter, yang berlangsung dalam waktu 10 detik sampai 1 menit.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

**Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan Bumi Pasundan, mari bersama-sama meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Cianjur dengan berdonasi melalui: rekening BCA No: 500 557 2000 A.N Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih. Bantuan akan disampaikan dalam bentuk sembako, layanan kesehatan, tenda, dll. Kepedulian kita harapan mereka.

2 dari 6 halaman

2. Petik Laut

Tradisi Rokat atau Petik Laut atau dikenal juga dengan sebutan Rokat Tase, merupakan salah satu tradisi Suku Madura yang masih dihelat.

Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur atas karunia serta nikmat, yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, tradisi ini juga dipercaya dapat memberikan keselamatan serta kelancaran rezeki.

Biasanya, tradisi ini dimulai dengan acara pembacaan istighosah dan tahlil bersama masyarakat yang dipimpin oleh pemuka agama setempat.

Lalu, masyarakat menghanyutkan sesaji ke laut sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Isi dari sesaji itu adalah ketan-ketan yang berwarna-warni, tumpeng, ikan-ikan, dan lain sebagainya.

3 dari 6 halaman

3. Toktok Sapi

Tradisi lainnya yakni Toktol, yang digelar di Masalembu, kecamatan di Kabupaten Sumenep, Provinsi Jawa Timur (Jatim) Indonesia. Namun, tradisi tersebut juga turut digelar di Madura Jatim.

Tradisi Toktok adalah kompetisi aduan sapi yang saling seruduk antara dua sapi yang berhadapan. Sapi yang diadu biasanya adalah sapi jantan. Kedua sapi akan beradu kekuatan hingga salah satu sapi kalah, menyerah, dan bahkan lari dari hadapan lawannya.

Saat menggelar Toktok, harus didampingi oleh orang yang ahli. Karena, tak sembarang orang bisa menjadi wasit Toktok. Jika bukan ahlinya, dapat menambah resiko dan membahayakan orang di sekitar bahkan berakibat fatal.

4 dari 6 halaman

4. Ritual Ojung

Ritual Ojung merupakan sejenis permainan yang melibatkan dua orang laki-laki untuk beradu fisik, dengan dilengkapi media rotan yang panjangnya sekitar 1 meter sebagai alat memukul.

Ritual ini digelar, untuk memohon hujan dan agar terhindar dari malapetaka akibat kekeringan musim kemarau.

Ritual Ojung juga diiringi dengan musik, yang terdiri dari 3 buah dung-dung atau akar pohon siwalan, yang dilubangi di tengahnya sehingga bunyinya seperti bas, dan kerca. Iringan musik ini jarang dijumpai di daerah lain.

 

5 dari 6 halaman

5. Haji Tujuan Akhir

Haji Tujuan Akhir, menjadi salah satu tradisi khas Suku Madura. Terlebih suku ini dikenal hemat dan ulet dalam berusaha, bekerja, atau berdagang. Meski gajinya kecil, namun mereka menyisihkan sedikit penghasilannya untuk simpanan naik haji.

Predikat haji di Madura masih menjadi kebanggaan tersendiri. Bahkan mereka lebih mengutamakan Lebaran Haji, dibanding Lebaran Idul Fitri.

Suku Madura tidak akan pulang kampung pada Lebaran Idul Fitri. Mereka akan pulang kampung pada Lebaran Haji.

 

6 dari 6 halaman

6. Mondok

Di Madura Jatim dipadati dengan ratusan pondok pesantren (ponpes) Islam, karena mayoritasa Suku Madura beragama Islam. Karena itulah, tradisi Suku Madura adalah mondok di ponpes.

Anak-anak Suku Madura bersekulah di ponpes, untuk mendalami ilmu agama dengan mondok. Mereka menyebutnya dengan istilah mondok, daripada menyekolahkan anak-anak ke sekolah-sekolah umum.

Tak jarang, masyarakat di Madura sudah biasa melepaskan anak-anak untuk mondok sejak usia dini. Selain di Madura, ada beberapa lokasi mondok yang menjadi pilihan di Jatim

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.