Sukses

8,2 Persen Anak Alami Stunting di Banyuwangi Selama Pandemi

Liputan6.com, Banyuwangi - Jumlah penderita stunting pada anak di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur meningkat. Lebih dari 8,2 persen dari total seluruh anak pada dua tahun terakhir di 25 kecamatan menderita stunting sejak dua tahun terakhir

Datanya, pada tahun 2019 penderita stunting berjumlah 7.527 anak. Sedangkan pada tahun sete;ahnye meningkat sebanyak 400 kasus, yaitu 7.909 anak mengalami stunting. dimana angka ini menyatakan sebanyak 8,2 persen dari total jumlah anak keseluruhan di Banyuwangi menderita stunting.

Data tersebut dipaparkan oleh Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bersama Muslimat NU, yang bersumber dari laporan Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi.

Kepala Dinkes Banyuwangi, Amir Hidayat menyebut angka tersebut termasuk ke dalam jumlah yang sangat tinggi bahakan di dalam peringkat nasional, sehingga stunting harus ditangani secara khususnya.

"Tingginya angka stunting bisa menganggu pembentukan dan perkembangan otak pada banyak anak Banyuwangi," jelasnya pada Selasa (8/3/2022).

Saat ini, pihaknya tengah menyiapkan jaring deteksi kasus stunting yang bekerja sama dengan Muslimat NU dan Nasyiatul Aisyiyah, hingga tingkat RT.

"Aplikasi pelaporan kasus stunting tengah dikembangkan agar pihak-pihak tersebut bisa mengirimkan informasi pada Pemkab Banyuwangi bila menemukan kasus stunting," katanya.

Adapun penyebab tingginya angka stunting itu, kata Amir yaitu meningkatnya jumlah kemiskinan di Banyuwangi akibat pandemi Covid-19.

Selain itu, pengetahuan masyarakat yang tidak memadai dan tingginya kasus TBC, membuat banyak anak tidak mengkonsumsi gizi yang cukup. Sehingga dibutuhkan langkah pencegahan pada kasus stunting baru,

"Harus dilakukan dengan edukasi dan ketahanan pangan untuk masing-masing keluarga juga," jelasnya.

 

Saksikan juga video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Penyebab Lain Stunting

Senada, Ketua Harian YAICI Arif Hidayat mengatakan, salah satu poin edukasi mengenai stunting pada masyarakat adalah masalah jumlah konsumsi gula dan produk susu kental manis.

"Persoalan-persoalan yang kami temukan di lapangan itu beragam. Ada yang orang tua memang tidak tahu mengenai kandungan susu kental manis, atau bahkan ada yang sudah tahu tapi masih memberikan susu kental manis untuk anaknya. Alasannya juga macam-macam, ada yang karena lebih murah atau anaknya lebih suka," kata Arif.

Permasalahan lainnya tingginya angka stunting yaitu , sering mengkonsumsi produk susu kental manis, bisa menyebabkan badan terlalu banyak kemasukan gula.

Sedangkan gula adalah media yang paling disenangi sel-sel kanker, sehingga harus dibatasi agar tidak merusak asupan gizi untuk anak-anak.