Sukses

Tempat Angker di Surabaya, Dari Rumah Mewah Hingga Peninggalan Belanda

Liputan6.com, Jakarta Banyak cerita dan pengalaman menarik saat berkunjung ke Surabaya. Salah satu kota metropolitan di Indonesia ini memiliki beragam tempat yang menarik untuk disinggahi.

Mulai dari tempat bersejarah, kuliner, religi hingga tempat angker dapat ditemui di kota pahlawan ini. Namun, butuh nyali besar untuk dapat mengunjungi tempat angker.

Pengunjung dapat menikmati sensasi bangunan tua tak berpenghuni hingga lokasi bersejarah lain di Surabaya yang juga dikenal angker. Berikut tempat angker Surabaya dihimpin dari berbagai sumber:

Rumah Hantu Darmo

Sebuah rumah mewah tinggi tiga lantai di Jalan Puncak Permai II nomor 26 Sukomanunggal Surabaya berada di urutan pertama. Rumah yang menjadi tempat angker tersebut konon merupakan rumah hasil pesugihan.

Dari informasi yang didapat, keluarga pemilik rumah mendapat kekayaan dengan syarat memberi tumbal dan sesajen. Suatu waktu, keluarga tersebut tidak lagi memberi tumbal dan sesajen.

Bahkan, keluarga yang tinggal dirumah tersebut melarikan diri melalui jalur laut. Mereka meyakini, jalur lait akan menghentikan kutukan.

Namun, naas, para hantu yang tinggal di rumah tersebut menenggelamkan kapal yang ditumpangi sehingga membuat satu keluarga meningal. Sementara itu, penjaga rumah ikut tewas terbunuh dan hingga kini kasusnya tidak pernah terungkap.

Beredar kabar, kematian dua penjaga rumah tersebut juga karena mereka dijadikan pengganti tumbal yang belum terbayar. Cerita tempat angker Surabaya tersebut sudah beredar di sejumlah kalangan masyarakat.

Saksikan video pilihan berikut ini

2 dari 4 halaman

Rumah Horor Kupang

Rumah Hantu berikutnya berada di jalan Banyu Urip Wetan 1A nomor 107 Surabaya Jawa Timur. Sebuah rumah dengan konsep arsitektur kuno tersebut membuat orang sekitar mudah menemukan rumah ini.

Diketahui, arsitektur rumah ini lebih tinggi dari gedung atau bangunan tinggi yang ada di sekitarnya. Konon, gedung ini awalnya dibangun oleh J.A J.A. van Middlekoop pada 1809.

Pada tahun 1945, gedung tersebut dibeli oleh dr Teng Khoen Gwan atau akrab disapa Gunawan Sasmita. Akibat kerusuhan rasial pada tahun 1948, pemilik memilih meninggalkan rumah itu.

Hingga saat ini, bangunan berdinding putih kusam tersebut tidak terawat. Sehingga membuat warga menilai gedung tersebut terkesan horo.

3 dari 4 halaman

Penjara Kalisosok

Penjara Kalisosok dibangun pada 1 September 1808. Penjara Kalisosok dibangun saat kepemimpinan Herman Williem Daendels.

Berdasarkan cerita masyarakat sekitar, banyak orang sering mendengar teriakan dari penjara ini.

Penjara Kalisosok Surabaya menjadi salah satu penjara yang paling angker di Indonesia. Walaupun begitu, Penjara Kalisosok sudah termasuk Cagar Budaya tipe B yang harus dilindungi pemerintah.

Mengutip dari akun Instagram @lovesuroboyo, banyak pejuang Indonesia yang pernah merasakan masa kelam di penjara ini, seperti Soekarno dan WR. Soepratman.

Konon, penjara ini tidak hanya digunakan untuk mengurung tahanan, melainkan juga menyiksa para tahanan. Meski kapasitasnya hanya 20 orang, kala itu satu ruangan dipaksa agar mampu ditempati 90 orang.

Tempatnya yang sempit, gelap, dan pengap membuat suasana penjara ini semakin seram.

4 dari 4 halaman

Pintu Air Jagir

Pintu Air Jagir dibangun sejak tahun 1917 oleh pemerintah Kolonial Belanda. Pintu air tersebut berfungsi untuk mengantisipasi banjir yang sering terjadi di Surabaya.

Berlokasi di Jalan Jagir Kelurahan Jagir Kecamatan Wonokromo Surabaya, pintu air tersebut sudah dikenal memiliki nuansa mistis.

Menurut cerita yang beredar di masyarakat, di sana terdapat buaya putih dan sering meminta tumbal. Namun, hingga sekarang pintu air ini masih berfungsi dengan baik sebagai pengendali banjir Surabaya. Tandon Air Wonokitri

Struktur bangunan tandon air tidak diubah sejak awal dibangun. Tandon air ini dipercaya menyimpan banyak hal mistis.

Diketahui, Tandon Air Wonokitri dibangun berkisar pada abad 20an. Beberapa katup sebagai pengatur air dan pipa besar masih dipergunakan hingga sekarang.

Bangunan ini sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya melalui Keputusan Walikota Surabaya pada 2011. Kini pengelolaan Tandon Air Wonokriti berada di bawah wewenang PDAM Surya Sembada.

Selain menjadi rumah air pertama dan tertua di Surabaya, hal menarik tendon ini adalah pendistribusiannya yang tidak menggunakan pompa. Hal ini karena lokasinya yang terletak di titik tertinggi Kota Surabaya.