Sukses

Asal Usul Pecel Madiun Legenda Kuliner Khas Jawa Timur

Liputan6.com, Jakarta Pecel kerap menghiasi beragam pilihan kuliner yang ada di Jawa Timur. Nasi dicampur sayuran dan kuah bumbu kacang menjadi salah satu pilihan kuliner di Jawa Timur.

Satu dari pecel yang ada di Jawa Timur tersebut yakni berasal dari wilayah Madiun. Pengunjung dapat menikmati sensasi makan Pecel Madiun di atas daun pisang atau pincuk.

Selain sayuran kangkung, isi pecel madiun yakni kacang panjang, tauge dan petai cina. Terakhir ditaburi serundeng dan saus kacang yang menggugah selera. Untuk pilihan lauk bermacam-macam, ada tahu tempe, rempeyek dan telur.

Dari informasi yang dihimpun, sentra pecel di Kota Madiun berada di kawasan Jalan Cokroaminoto. Dari perempatan lampu merah jalan sawo hingga jalan musi banyak penjual nasi Pecel Madiun.

Di jalan ini, pedagang pecel madiun rata-rata mulai dari pagi hingga ke pagi lagi. Sehingga tak bakal kesulitan untuk mencari nasi pecel di situ.

Beberapa kedai nasi pecel yang terkenal di kawasan Jalan Cokroaminoto yakni Pecel Pojok, berada pojokan antara Jalan Cokroaminoto dan Jalan Ringin. Selain itu pecel Bu Wir Kabul, Pecel Tanjung, pecel 99 dan lainnya.

Untuk, Pecel 99 merupakan langganan mantan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhojono. Bahkan, pecel juga sudah merambah sampai jalan-jalan kecil di Kota Madiun.

Saksikan video pilihan berikut ini

2 dari 2 halaman

Ciri Khas

Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp 5.000 sebungkus dengan lauk rempeyek dan tempe. Dari informasi yang didapat, Pecel Madiun disinyalir sudah ada sejak zaman Indonesia masih berjuang merebut kemerdekaan.

Disinyalir, Pecel Selo menjadi salah satu pelopor kuliner khas Madiun yang lestari ini. Dinamakan pecel selo karena penjualnya berada di daerah Selo Madiun.

Dahulu, penjual pecel selo keliling kampung denga menggendong bakul besar. Di tangannya ada ceret air untuk menyampur sambal.

Sambalnya Pecel Selo memiliki ciri khas tersendiri. Teksturnya yang kasar karena masih ada butiran-butiran kacang.

Saat itu, para penjual pecel masih menggunakan peralatan tradisional seperti penumbuk kacang dari lumpang kayu. Sehingga benar-benar berasa kacangnya yang terlebih dahulu disangrai dengan wajan yang terbuat dari tanah liat.

Sementara pada pincuk atau bungkus nasi pecel selo menggunakan daun ploso. Daun berbentuk hati yang setiap tangka berisi 3 daun.

Rata-rata penjual pecel dulu selalu menggunakan kain panjang sepertiga sampai bawah lutut dan melebar di bawah. Bagian atas, mengenakan kebaberlengan tiga perempat sampai bawah siku.